Senin, 21 April 2014

SEJARAH KARAPAN SAPI KABUPATEN SUMENEP


     Indonesia adalah negara kesatuan yang dikenal mempunyai suku yang sangat banyak sehingga Indonesia juga dikenal sebagai negara yang mempunyai kebudayaan dan bahasa daerah yang banyak dan bervariasi. Kebudayaan adalah keselurahan pengejawantahan batin, pikiran, dan akal budi manusia di suatu suku bangsa, yang terakumulasikan berdasarkan pelajaran terpetik serta tertumbuhkan dari pengalaman hidup manusia, suatu cirri dan kemampuan yang membedakan   manusia  dari  hewan.
Di provinsi Jawa Timur, tempatnya di pulau Madura atau kabupaten Sumenep, terdapat kebudyaan karapan sapi. karapan sapi berasal dari kata gerebhan yang artinya menggarap tanah atau mengolah tanah. Orang yang pertama kali menggunakan cara seperti itu di Sumenep adalah syekh Ahmad Baidawi dia adalah salah satu cucu Sunan kudus dan merupakan putra dari Pangeran Pakaos.  Pada pertengahan abad ke-17 M Kabupaten Sumenep dikenal daerah yang kelaparan karena penduduknya yang malas untuk bekerja. Oleh karena itu, Ahmad Baidawi memberi pengatahuan cara bercocok tanam yang baik dan mendapatkan hasil panen yang berlipat ganda. Selain itu, Ahmad Baidawi juga mengadakan lomba menggarap atau mengolah tanah dan yang menang mendapatkan hadiah berupa 1 karung beras, dengan tujuan agar masyarakat Sumenep tidak malas bekerja lagi.  Setelah itu, setiap selesai panen diadakan lomba karapan sapi sebagai hiburan dan pesta untuk merayakan hasil panennya.
Karapan sapi awalnya dilombakan oleh sekelompok petani untuk hiburan setelah panen.  Ketika lomba karapan sapi, masyarakat sekitar banyak yang menyukai lomba itu sehingga membuat penonton karapan sapi menjadi lebih banyak, dan bahkan banyak juga ada yang berminat untuk menjadi peserta. Oleh karena itu, Adipati (Bupati) kabupaten Sumenep mengadakan lomba karapan sapi setiap satu tahun sekali sehingga menjadi budaya kabupaten Sumenep sampai saat ini. 

salah satu peninggalan keleles pada pertengahan abad ke-17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar