SEJARAH KARAPAN SAPI KABUPATEN SUMENEP
Indonesia
adalah negara kesatuan yang dikenal mempunyai suku yang sangat banyak sehingga Indonesia juga
dikenal sebagai negara yang mempunyai kebudayaan dan bahasa daerah yang banyak
dan bervariasi. Kebudayaan adalah keselurahan
pengejawantahan batin, pikiran, dan akal budi manusia di
suatu suku bangsa, yang terakumulasikan berdasarkan pelajaran terpetik serta
tertumbuhkan dari pengalaman hidup manusia, suatu cirri dan kemampuan yang membedakan manusia dari hewan.
Di
provinsi Jawa Timur, tempatnya di pulau Madura atau kabupaten Sumenep, terdapat
kebudyaan karapan sapi. karapan sapi berasal dari kata gerebhan yang artinya menggarap tanah atau mengolah tanah. Orang
yang pertama kali menggunakan cara seperti itu di Sumenep adalah syekh Ahmad Baidawi dia adalah salah satu cucu Sunan kudus dan merupakan putra dari Pangeran Pakaos. Pada pertengahan abad ke-17 M Kabupaten
Sumenep dikenal daerah yang kelaparan karena penduduknya yang malas untuk
bekerja. Oleh
karena itu, Ahmad Baidawi memberi pengatahuan cara bercocok tanam yang baik dan
mendapatkan hasil panen yang berlipat ganda. Selain itu, Ahmad Baidawi juga
mengadakan lomba menggarap atau mengolah tanah dan yang menang mendapatkan hadiah
berupa 1 karung beras, dengan tujuan agar masyarakat Sumenep tidak malas
bekerja lagi. Setelah itu, setiap selesai
panen diadakan
lomba karapan sapi sebagai hiburan dan pesta untuk merayakan hasil panennya.
Karapan
sapi awalnya dilombakan oleh sekelompok petani untuk hiburan setelah panen. Ketika lomba karapan sapi, masyarakat sekitar banyak
yang menyukai lomba itu sehingga
membuat penonton karapan sapi menjadi lebih banyak,
dan bahkan banyak juga ada yang berminat
untuk menjadi peserta. Oleh karena
itu, Adipati (Bupati) kabupaten Sumenep mengadakan lomba karapan sapi setiap
satu tahun sekali sehingga menjadi budaya kabupaten Sumenep sampai saat ini.
![]() |
| salah satu peninggalan keleles pada pertengahan abad ke-17 |

